Unconditional Love


Loving you unconditionally. 

Terdengar seperti kalimat gombal, tapi mungkin itulah yang aku miliki selama ini walau tak terwujud dalam kata. 

Kalau aku pikirkan kembali, orangtuaku tak pernah meminta aku jadi apa-apa. Mereka hanya memberikan yang terbaik dari apa yang mereka bisa. Terlepas dari segala kekurangannya. 

Menjadi dokter pun, aku yang mau. Aku tak jadi dokter pun mungkin buat mereka tak mengapa. 

Aku memang dibesarkan dengan sedikit apresiasi yang berwujud kata-kata. Rasaku begitu. Tapi kalau diingat kembali, bahkan orangtuaku tak pernah terlalu membangga-banggakan kesuksesan anaknya di depan orang lain. Sewajarnya saja. Karena buat apa ya, mungkin itu pikir mereka. 

Aku sendiri yang ingin menjadi ini itu. Aku yang ingin jadi dokter, ingin sekolah spesialis, ingin beasiswa, semua aku yang mau sendiri. Tidak ada yang meminta apalagi memaksa. 

Kalau dipikir lagi, untuk apa yang aku kejar selama ini? Apakah untuk membahagiakan keluargaku, atau untuk kepuasan batinku sendiri? Mungkin jawabannya yang kedua, karena toh aku sendiri yang paling bahagia dan merasakan manfaatnya. Orang-orang disekitarku hanya memberikan kata selamat, lalu sudah. Sekadar itu saja. 

Kalau aku bukan anak baik-baik dengan apa-apa yang aku pilih saat ini, apakah orangtuaku, suamiku saat ini, akan menerimaku sebagaimana aku apa adanya. Aku rasa tetap iya. 

Apa yang melekat pada diriku, karakterku, bagaimana aku memperlakukan orang lain, itu yang menjadi nasihat orangtuaku sejak dulu. Rasanya itu saja. Walau saat prestasiku buruk di sekolah, orangtuaku tetap menegurku dengan keras. Demi aku memperbaiki diri. Namun lebih dari itu, kalau aku bersikap tidak baik pada orang lain, itu lebih menjadi soal untuk mereka. 

Barangkali cinta tak bersyarat itulah yang paling berharga yang aku miliki. Cinta tak bersyarat menurut pendapatku berbeda dengan cinta apa adanya. Dalam cinta tak bersyarat tetap ada ruang bertumbuh untuk kebaikan. 

Jika cinta tak bersyarat itu berwujud kata mungkin bunyinya kurang lebih seperti ini:

"Apapun yang kamu pilih, aku dukung selama itu baik"

"Ini buatmu, ini bukan hutang, dan kamu tak perlu membalasnya"

Post a Comment

0 Comments